Cracking The Code – Food Security

Ketahanan pangan itu seperti sebuah puzzle besar yang pieces-nya dijamin tersedia di sekitar kita secara cukup, namun kita musti bisa menaruh setiap piece yang ada di tempat yang seharusnya. Bila kita bisa melakukannya, maka gambar besar yang indah akan tercipta – dalam bentuk semua orang bisa makan. Sebaliknya bila kita tidak bisa melakukannya, maka yang terjadi seperti dunia sat ini. Sekitar 800 juta orang masih lapar di dunia dan sekitar 20 juta diantaranya di negeri ini. Lantas apa yang menjadi kunci dari ketahanan pangan ini ?

Bagaimana kita bisa menyusun piece by piece secara benar dari begitu banyak pieces yang berserekan di sekitar kita ? itulah gunanya petunjuk. Maka hanya dengan mengikuti petunjukNya-lah kita bisa mengelola masalah yang kompleks seperti ketahanan pangan ini, karena ilmu manusia tidak akan pernah cukup untuk melakukannya – bila tidak disertai petunjukNya.

Mengapa ilmu saja manusia tidak akan pernah cukup ? Saya gambarkan situasinya begini. Masalah ketahanan pangan ini setidaknya meliputi ilmu pertanian, ilmu pangan, ilmu gizi, ilmu ekonomi, ilmu perdagangan, politik dlsb. Masing-masing sarjana yang menyelesaikan bidang-bidang keilmuan tersebut sampai lulus mereka diuji dengan ilmu yang tertuang di sekitar 40-an textbook, kalau ditumpuk sekitar 1 meter.

Bila ada 7 bidang keilmuan, maka ada textbook setebal kurang lebih 7 meter kalau digabungkan semuanya menjadi satu. Bila sarjana 7 bidang ini bergabung berusaha menyelesaikan urusan ketahanan pangan, apakah masalah akan teratasi ? Nampaknya tidak, terbukti dari masih tingginya tingkat kelaparan tersebut di atas.

Di lain pihak ada Al-Qu’ran sebagai sumber segala sumber ilmu, meskipun Al-Quran rata-rata hanya setebal 3 cm – tetapi isinya jauh lebih lengkap dari textbook yang 7 meter tersebut atau bahkan seluruh textbook dari seluruh bidang ilmu digabungkan dan ditumpuk menjadi satu.

Kok bisa ? satu kitab memberikan jawaban untuk semua persoalan seperti yang dijanjikanNya (QS 16:89) ? termasuk masalah yang tidak terpecahkan seandainya seluruh textbook dari seluruh bidang keilmuan-pun (selain Al-Qur’an) digabung ?

Itulah efektifitasnya Al-Qur’an, dalam setiap ayat bahkan kata dan huruf masing-masing menjadi sumber ilmu tersendiri. Apalagi ketika ayat-ayat dirangkai menjadi ilmu yang diamalkan, dia mengundang hikmah yang hanya diberikan olehNya kepada siapa yang dikehendaki (QS 2:269).

Sama seperti angka yang hanya ada 10 yaitu dari angka ‘0’ sampai angka ‘9’ , tetapi dengan angka yang hanya 10 ini Anda bisa menuliskan angka berapapun tanpa batas. Demikianlah kurang lebih ilmu tanpa batas yang bisa disusun dari 6,600-an ayat yang ada di dalam Al-Qur’an.

Jadi ilmu yang tanpa batas itu lahir melalui rangkaian, urutan,  kombinasi dan permutasi dari ribuan ayat yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut. Kalau kita bisa memahami sebagian kecil saja dari ilmu yang tanpa batas ini, maka masalah-masalah besar sudah akan bisa dipecahkan.

Sekarang kita coba memahami petunjukNya untuk menyelesaikan masalah ketahanan pangan yang menjadi isu penting dunia. Secara umum yang dimaksud ketahanan pangan itu meliputi ketersediaan, keamanan dan keterjangkauannya.

Mengapa pangan yang ada di dunia saat ini cenderung tidak tersedia dengan cukup ? bila dijawab dengan ilmu manusia, jawaban untuk ini akan tergantung pada kepada siapa pertanyaan diajukan dan latar belakang keilmuannya. Karena jawaban yang berbeda-beda inilah maka para teknokrat dan birokrat sulit untuk mencapai satu kata dalam mengatasi masalah besar bersama ini.

Bila pertanyaannya diajukan ke ahli Al-Qur’an, jawabannya-pun masih bisa merefer kepada sejumlah ayat yang berbeda. Tetapi karena dijamin oleh Allah – tidak ada ayat Al-Qur’an yang saling bertentangan (QS 4:82), maka ketemu ayat di surat apapun akan saling menguatkan satu sama lain – jawabannya akan konvergen menuju satu solusi yang sama.

Kita ambil contoh misalnya untuk urusan pangan yang sangat detil dan jelas ada di rangkian ayat-ayat surat ‘Abasa mulai dari ayat 24 sampai 32, bahkan ada perintah langsung untuk memperhatikan makanan kita di rangkian ayat ini. Maka satu surat pendek ini saja insyaAllah cukup untuk mengatasi problem kita sebenarnya.

Bila di tulisan Sumber Rezeki Berlapis-lapis saya fokus pada kandungan zat-zat yang ada di dalam masing-masing tanaman yang disebutkan di rangkian ayat tersebut , pada tulisan ini saya tekankan pada aspek produksinya.

Untuk mudahnya memahami aspek produksi pangan ini, saya gunakan infografik dibawah. Untuk tanaman yang disebut namanya secara specifik seperti anggur, kurma dan zaitun – maka perhitungannya berdasarkan standar tanaman yang bersangkutan. Bila disebut umum seperti sayuran – saya gunakan contoh sayuran tertentu (saya gunakan kecambah misalnya), demikian pula dengan isyarat daging, saya gunakan – daging domba – karena domba inilah yang digembalakan para Nabi.

food_code

Infografik di atas kurang lebih menjelaskan berapa banyak manusia bisa ditopang kebutuhan pangannya dalam setahun di tanah seluas 1 hektar bila ditanami masing-masing tanaman di rangkaian aya-ayat 27-32 dari surat ‘Abasa .

Perhatikan keutamaan tanaman biji-bijian yang disebut pertama – dia relatif lengkap memberikan seluruh komponen makanan yang kita butuhkan mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral – meskipun penekanannya pada karbohidrat. Bila hanya butuh karbohidrat, maka 1 ha sawah bisa mencukupi kebutuhan pangan untuk 45 orang dalam 1 tahun.

Bagaimana bila karbohidrat dari beras ini tidak ada atau tidak cukup karena yang perlu diberi makan lebih dari daya dukung lahan ini ? sumber dari buah-buahan seperti kurma dan anggur dapat melengkapi atau menggantikannya. Lebih dari itu satu hektar kurma bisa mencukupi kebutuhan karbohidrat 88 orang dalam satu tahun atau hampir dua kalinya beras.

Bahkan anggur-pun per hektarnya dapat menggantikan 2/3 karbohidrat yang bisa diberikan oleh beras atau 31 orang per hektar per tahun. Itulah sebabnya masyarakat Gaza yang sudah lebih dari 9 tahun diboikot ekonominya-pun bisa survive dari sisi makanan, antara lain karena tanaman anggur umum dimiliki masyarakat kebanyakan sampai atap-atap rumah mereka.

Untuk protein berbeda dengan asumsi kita selama ini produktifitas per hektar tertinggi  justru ada pada sayuran tertentu seperti kecambah, bukan pada daging.

Sedangkan untuk minyak atau lemak yang baik, produktifitas yang sangat tinggi ditunjukkan oleh minyak zaitun – yaitu bisa memenuhi kebutuhan minyak untuk 295 orang per hektar tanamannya dalam satu tahun.

Minyak zaitun selain menjadi sumber energi dan pertumbuhan, di ayat lain dijelaskan sebagai bumbu penyedap rasa (QS 23:20). Inilah solusi dari Allah ketika makanan kita banyak dari beraneka macam bahan, pemersatu rasanya adalah minyak zaitun.

Dengan adanya minyak zaitun yang produktifitas dan daya dukung kehidupannya begitu tinggi tersebut, peluang ketahanan pangan menjadi jauh lebih tinggi. Maka minyak zaitun ini saya ibaratkan sebagai kunci pembuka ketahanan pangan itu. Kalau toh karbohidrat, protein, vitamin dan mineral tersedia melimpah dari tanaman-tanaman di sekitar kita – kalau rasanya kurang enak, orang bisa saja enggan memakannya. Dengan minyak zaitun yang diresepkan oleh Allah inilah semuanya menjadi enak, pilihan makanan kita menjadi tidak terbatas.

Dari sini kita bisa memahami salah satu makna keberkahan yang disebutkan oleh Allah tentang pohon zaitun ini (QS 24:35), selain produktifitasnya sendiri yang tinggi – dia juga menjadi kunci pembuka rasa bagi tanaman-tanaman lainnya. Minyak zaitun mempunya multiplier efek yang luar biasa bagi bertambahnya pilihan makanan kita.

Dengan informasi yang ada di matriks pada  infografik tersebut di atas, sejauh kita masih mau menanam hijauan yang dimakan – pangan kita insyaAllah akan cukup. Untuk ini, kita juga diisyaratkan tidak hanya sekedar menanam, tetapi juga menanam beraneka macam tanaman pangan secara padat – agar menjadi kebun pangan yang lebat (QS 80:30).

Maka bila ini yang kita lakukan, daya dukung kehidupan dari tanah-tanah yang ketersediaannya makin terbatas itu akan menjadi berlipat-lipat. Hikmah lainnya dari tanaman beraneka ragam yang ditumpang sarikan secara padat – asal masing-masing masih masih bisa mengakses matahari secara cukup – akan menjaga tanaman dari wabah penyakit. Bila tanaman bebas dari penyakit, maka supply pangan tidak mudah terganggu.

Sejauh kita masih mau menanam secara proporsional dan yang kita tanam adalah tanaman yang bisa dimakan, maka negeri ini akan menjadi negeri yang baik – baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafuur – yang penduduknya berkecukupan pangan dan Allah Yang Maha Pengampun (QS 34:15). Sebaliknya bila kita enggan menanam atau menanam tetapi bukan tanaman yang dimakan, maka negeri ini menjadi negeri yang lalai (QS 34:16) – antara lain lalai dari kewajibannya memberi makan yang cukup bagi penduduknya. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin.

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Co-Founder)

(Visited 99 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *