Mengobati Tanpa Obat

Ketika Thomas Edison sekitar satu abad yang lalu mengungkapkan visinya tentang pengobatan, banyak orang yang sinis menanggapinya – sama dengan visi-visi dia yang lain seperti filament bolam lampu, phonograph, kamera untuk gambar bergerak dlsb. Visioner inventor memang melihat jauh kedepan sebelum kebanyakan  orang lain bisa melihatnya. Dan visi jauh kedepan ini bisa diasah, dengan apa mengasahnya ? Dengan membaca berita-berita masa depan dan juga dengan terus memikirkan ciptaanNya, salah satunya saya ambil contoh kasus tentang kesehatan.

 

Apa yang divisikan oleh Thomas Edison satu abad lalu diungkapkannya dalam kalimat : “Dokter pada masa depan tidak akan memberi obat, tetapi tertarik pada pasiennya dalam konteks perhatian pada sisi manusianya, pada makanannya yang benar dan pada pencegahan penyakit”.

 

Di jaman ini berkembang bidang baru dalam ilmu kedokteran yang disebut Functional Medicine, prinsip dasarnya persis seperti yang divisikan oleh Thomas Edison tersebut.

 

Tetapi apa yang divisikan oleh Thomas Edison yang kemudian diikuti oleh ilmu kedokteran modern satu abad berikutnya, bukanlah hal yang baru sebenarnya. Hampir keseluruhan  pengobatan di Tibbun Nabawi adalah tanpa obat – dalam pengertian obat seperti yang kita kenal sekarang. Obat-obat utama dalam Tibbun Nabawi ya makanan kita sehari-hari.

 

Jadi merajalelanya penyakit yang ada di masyarakat sekarang cara mengatasinya sebenarnya bukan pada fokus pengobatannya, ini hanya mengatasi masalah yang timbul tetapi tidak menghentikan penyebab dari munculnya berbagai penyakit tersebut.

 

Penyakit tidak datang secara tiba-tiba, merajalelanya berbagai jenis penyakit di jaman ini adalah karena ecosystem yang kita tinggali memang sudah sakit. Seperti menguraikan benang kusut, kita harus ketemu ujungnya dahulu, kemudian diurutkan sejengkal demi sejengkal – barulah benang itu akan bisa lurus kembali.

Sick_Environment

 

Dari mana ujung dari ecosystem yang sakit tersebut ? ya dari kita sendiri. Tugas kita sebagai manusia di muka bumi adalah untuk memakmurkannya (QS 11:61), bukan untuk sekedar menguasainya, memilikinya atau mengambil keuntungan sebesar- besarnya.

 

Karena orientasi yang dominan dari manusia yang hidup di permukaan bumi saat ini adalah untuk menguasai dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya semata, maka manusia rela melakukan itu dengan mengorbankan sustainability dari bumi itu sendiri.

 

Lingkungan menjadi rusak oleh berbagai pencemaran, baik yang tidak disengaja maupun yang disengaja. Atau awalnya tidak disengaja, tetapi setelah tahu bahwa apa yang dilakukannya merusak lingkungan – tetap saja terus dilakukan ya karena orientasi keuntungan semata tersebut di atas.

 

Apakah para produsen pupuk dan obat-obat kimia pertanian tahu bahwa produk mereka berbahaya bagi kesehatan ? mereka tentu tahu. Tetapi mengapa terus dilakukannya ? Ya karena tujuan utama usahanya adalah semata mencari keuntungan tadi.

 

Begitu tanah-tanah pertanian tercemar oleh pupuk dan obat-obat kimia, ternak-ternak-pun memakan hijauan yang sudah tercemar tersebut. Seperti juga yang diderita manusia yang keracunan, ternak menjadi mudah sakit atau pertumbuhannya menjadi terganggu.

 

Pemiliknya menjadi tidak sabar, maka diberi pula ternaknya dengan berbagai obat-obatan, dari antibiotic sampai hormone. Ternak yang seharusnya kotorannya menjadi sumber pupuk karena kaya akan nutrisi tanaman dan microba, microba-nya telah mati sejak diperut ternak tersebut dan penguraian senyawa-senyawa kompleks dalam perut ternak menjadi tidak maksimal.

 

Ketika dagingnya dikonsumsi manusia, terbawa pula sisa-sisa antibiotic dan berbagai hormone-nya. Manusia yang mengkonsumsinya menjadi rentan penyakit karena terganggunya microbiome atau ecosystem microba di dalam perutnya.

 

Bahkan ketika kotoran ternak tersebut digunakan untuk pupuk-pun – yang seharusnya menyuburkan menjadi nyaris tanpa efek. Senyawa kompleks tidak terurai sempurna, membuat tanaman tidak bisa menyerap nutrisi yang ada. Senyawa kompleks tidak terurai karena microba pengurainya dihabisi oleh antibiotic atau diganggu lingkungan kerjanya oleh berbagai hormone buatan manusia.

 

Dampak lebih jauh adalah pohon-pohon buah tidak berbuah kecuali dipupuk kimia pula. Pupuk-pupuk kimia buatan manusia ini tidak pernah sempurna sehingga selain menambah kerusakan tanah, mengganggu kelengkapan microbiome tanah – juga menghasilkan buah-buah yang tidak sempurna.

 

Jeruk-jeruk yang dahulu aromanya tercium sampai jauh, kini sudah didekatkan hidung-pun nyaris tidak tercium aromanya. Padahal aroma buah-buahan itu juga bagian dari indikasi adanya antioksidan dalam buah, antioksidan buah-pun ikut menghilang bersamaan dengan menghilangnya aroma buah.

 

Ketersediaan makanan manusia menjadi semakin terganggu, makanan tidak lagi cukup baik dari sisi kwalitas maupun kwantitas. Manusia pemakannya menjadi tidak lagi bisa hidup sehat dari mengkonsumsi makanannya. Kesehatan mereka menjadi tergantung pada obat – dan inilah yang memang dikehendaki segelintir orang yang motive hidupnya memang hanya mencari keuntungan. Kesehatan masyarakt menjadi project pencarian keuntungan sebesar-besarnya bagi sejumlah perusahaan dan institusi-institusi raksasa dunia.

 

Lantas bagaimana kita menghentikan lingkaran setan yang membelenggu kesehatan masyarakat tersebut di atas ? Mulai dari akar permasalahannya. Penyakit-penyakit yang timbul di masyarakat hanyalah puncak gunung es – yang mucul di permukaan.

 

Yang tidak nampak di permukaan jauh lebih besar dari yang nampak. Yang tidak nampak ini intinya ya ecosystem yang sakit yang saya jelaskan tersebut di atas. Bila dirinci dasar gunung es yang tidak nampak itu akan kita temukan setidaknya tiga hal, yaitu factor lingkungan, genetics dan gaya hidup atau lifestyle.

 

Jadi kalau kita ingin menyembuhkan perbagai penyakit yang ada di masyarakat, fokusnya mestinya pada tiga hal tersebut. Kalau fokusnya hanya pada yang nampak di permukaan – yaitu mengobati perbagi penyakit yang timbul, penyakit akan terus bermunculan karena penyebab utamanya tetap exist.

 

Kalau yang kita atasai penyebabnya, maka proses munculnya penyakit baru insyaAllah bisa dihentikan tanpa harus menggunakan obat. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat awam seperti kita dalam memperbaiki kerusakan besar tersebut di atas ?

 

Mulai dari kita, dari yang kita bisa. Kita bisa mulai dari semaksimal mungkin aware terhadap kerusakan lingkungan , dan berusaha sebisa mungkin ikut memperbaikinya.

 

Kita ada sejumlah project yang saling menunjang untuk perbaikan ini, mulai dari gerakan menanam makanan kita sendiri (iGrow My Own Food) – karena cepat atau lambat kita tidak bisa terus menerus mengandalkan sumber pangan kita dari orang lain, sampai project berteknologi tinggi yang kita sebut Microbiome.

 

 

Tidak akan lama lagi waktunya ketika orang bisa berobat tanpa obat, ketika suatu penyakit didekati tidak hanya pada penyakitnya itu sendiri – tetapi lebih fokus pada apa yang menyebabkannya. Bila penyebab utama terbesar dari penyakit adalah factor makanan, maka pengobatan penyakit itu harus maju jauh beberapa lengkah kedepan –sampai melibatkan ahli-ahli pertanian. Karena dari para ahli pertanian inilah makanan-makanan yang sehat akan dihasilkan.

 

Dan untuk menjadi ahli pertanian, petunjuknya juga sudah sangat jelas dan sederhana. Asal Anda kuasai lima item di akhir surat Al-Hajj ayat 5 (Maa’, Ihtazzat, Warabat, Wa-anbatat, Min Kulli Jauzin Bahiij) maka insyaaalah Anda sudah bisa menjadi ahli pertanian yang paripurna. InsyaAllah.

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Co-Founder)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *