Can We Make The Change?

WHO memperkirakan bahwa penderita diabetis di Indonesia akan melonjak dari 10 juta orang tahun 2015 lalu menjadi 21.3 juta orang dalam 14 tahun mendatang. Sementara itu penderita cancer kita yang tingkat prevalensi-nya saat ini berada di angka 130 per 100,000 orang, akan bergerak menuju tingkat prevalensi yang sama dengan negara-negara barat yang kini sudah berada di kisaran angka 300-an per 100,000 orang – karena pola makan dan gaya hidup mereka yang kita tiru. Trend mengerikan dalam bidang kesehatan ini akan terus memburuk untuk kita dan lebih-lebih generasi anak cucu kita, kecuali kita membuat perubahan yang bisa kita lakukan sekarang juga!

 

Kita tahu bahwa penyakit-penyakit mengerikan seperti diabetes, cancer , jantung  dan perbagai penyakit serius lainnya adalah penyakit-penyakit yang bisa dicegah dan diobati dengan memperbaiki makanan kita –  tetapi kita berbuat sangat sedikit untuk ini.

 

Rata-rata ahli kesehatan tahu makanan apa yang menyebabkan penyakit-penyakit tersebut dan makanan apa pula yang bisa mencegah atau bahkan mengobatinya. Lagi-lagi sangat sedikit yang dilakukan di tingkat masyarakat, orang per orang banyak yang melakukannya – tetapi belum menjadi gerakan yang massive di masyarakat.

 

Gerakan yang massive sekarang adalah tiba-tiba orang berbondong-bondong ke rumah sakit karena bisa berobat dengan dana BPJS, tetapi BPJS-pun tidak akan berumur panjang bila upaya penyehatan masyarakat secara massive tidak dilakukan. Kekuatan ekonomi besar seperti Amerika-pun pernah terpaksa men-shut down – layanan public-nya tahun 2013 lalu, ya antara lain karena tidak terkendalinya biaya kesehatannya.

 

Siapapun yang akan menanggung biaya kesehatan ini, apakah pemerintah, rakyat sendiri atau rame-rame – tetap tidak akan mencukupi bila upaya penyehatan masyarakat secara massive tidak dilakukan mulai saat ini juga.

 

Lantas apa yang mestinya bisa kita lakukan untuk memperbaiki ini ? sangat banyak , tetapi saya ambil satu contoh kasus saja yang bisa dilakukan dan inysaAllah sudah akan banyak membawa perubahan.

 

Kita tahu bahwa penyakit-penyakit serius seperti seperti diabetes, cancer , jantung  tersebut di atas sangat banyak dipengaruhi oleh makanan kita khususnya unsur lemak yang kita konsumsi. Bila lemak yang kita konsusmi mengandung asam lemak jenuh terlalu tinggi, dan rasio Omega-6 dan Omega 3 nya juga tinggi  maka resiko seluruh penyakit serius tersebut juga tinggi.

 

Inilah yang pertama-tama bisa kita lakukan, bila pemerintah atau institusi terkait mau terlibat – mereka pasti memiliki seluruh resources yang dibutuhkan untuk melakukannya dengan massive. Hanya dibutuhkan sekitar 2.75 juta hektar lahan untuk menanam pohon buah alpukat misalnya, kita sudah akan bisa swasembada jenis minyak yang baik untuk menjaga kesehatan kita dan anak cucu kita kedepan.

 

Besarkah 2.75 juta hektar lahan tersebut ? tentu besar bila rakyat biasa seperti kita-kita yang melakukannya sendiri. Tetapi ini kecil, kurang dari ¼ luasan lahan sawit yang kini dimiliki Indonesia – bila pemerintah mau mengupayakannya.

 

Namun juga kita sadari bahwa mengajak pemerintah atau institusi terkait kalau toh bisa akan lama, perlu banyak wacana, kajian akademis, undang-undang, peraturan, dlsb. Sebelum diimplementasikan pemerintahan baru sudah akan menggantikannya, kemudian akan memulai lagi dari awal, dst.

 

Walhasil kalau kita ajak pemerintah mungkin tidak sampai-sampai untuk urusan menyehatkan masyarakat yang sifatnya perbaikan atau pencegahan demikian. Mengajak para konglomerat sebenarnya akan lebih cepat, tetapi inipun belum tentu yang terbaik bagi rakyat.

 

Sebab bila urusan makanan ini diserahkan pada perusahaan-perusahaan yang berorientasi profit semata, maka kemungkinannya tinggal dua. Pertama bila peluang profitnya kecil, rakyat membayar value for money – perusahaan yang  murni berorientasi profit akan enggan memasukinya.

 

Kedua bila peluangnya besar, bisa mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya – barulah mereka akan memasukinya. Tetapi bila yang kedua ini yang terjadi, kembali – makanan atau minyak yang sehat meskipun akan available di masyarakat – hanya akan terjangkau bagi yang mampu membelinya.

 

Maka kini peluang terbaik untuk mengatasi problem kesehatan jangka panjang ini tidak bisa lain kecuali kita atau masyarakat ini sendiri yang mulai melakukannya. Bila  setiap satu orang menanam 3 pohon alpukat, maka dalam lima tahun kedepan insyaAllah kita sudah akan mulai  berjalan menuju swasembada minyak yang sehat.

 

Banyakkah 3 pohon perorang ini ? rata-rata jumlah pohon di perumahan Anda termasuk di jalan-jalannya masih jauh lebih banyak dari target tiga pohon per orang ini. Di desa-desa malah rasio pohon per orang ini akan bisa jauh lebih tinggi, lebih tinggi lagi di daerah-daerah perkebunan dan kehutanan.

 

Pendeknya kita tidak akan kekurangan tempat untuk menanam setara 3 pohon alpukat per orang. Bahkan kelak ini bisa saja berlebih, lebih dari jumlah yang kita butuhkan. Inipun insyaAllah akan baik karena seperti produksi sawit kita sekarang yang membanjiri dunia, mengapa tidak dengan minyak yang baik seperti alpukat ini yang membanjiri dunia ?

 

Alpukat bukan hanya daging buahnya yang bisa dibuat minyak serta sumber nutrisi tinggi. Bahkan limbah berupa biji-nya-pun bisa menjadi sumber minyak tersendiri. Biji alpukat kini malah diburu orang untuk upaya penyembuhan berbagai penyakit.

 

Seorang dokter China yang mendapatkan penghargaan World Famous Doctor dari American Cancer Society bahkan menyarankan orang memakan alpukat beserta bijinya, karena 70 % antioxidantalpukat adanya di biji ini.

 

Penelitian lain yang dilakukan di University of Antioquia – Medellin – Columbia menemukan bahwa ekstrak biji alpukat memiliki apa yang disebut pro-apoptotic effect pada sel leukemia, yaitu membuat sel leukemia melakuka self-destruction atau menghancurkan diri sendiri – dan meninggalkan sel yang normal dan sehat.

 

Akan lebih menarik lagi kalau kajian tentang Alpukat ini dilakukan juga dari kaca mata Al-Qur’an yang merupakan petunjuk kita dan jawaban untuk seluruh masalah kita. Alpukat tidak disebut secara khusus dalam Al-Qur’an, dia masuk kategori umum dengan apa yang disebut buah-buahan. Apa maknanya ?

 

Sama dengan kedudukan negeri, ada negeri yang disebut specific ‘diberkahi’ seperti negeri Syam – negeri di sekitar Masjidil Aqsha. Tidak berarti bahwa negeri seperti kita di Indonesia tidak diberkahi, negeri seperti kita juga bisa diberkahi tetapi bersyarat, yaitu bila kita memenuhi syaratnya –  bila penduduk negeri ini beriman dan bertakwa (QS 7 :96).

 

Demikian pula dengan buah, ada buah yang berasal dari pohon yang oleh Allah sudah beritahu kita keberkahannya – yaitu zaitun (QS 24:35). Ada pula buah yang begitu banyak disebut sampai 21 kali, dan keberkahannya dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu kurma.

 

Maka untuk buah seperti zaitun dan kurma ini, kita merem yakin sepenuhnya dengan kabar dari Al-Qur’an dan hadits tersebut. Tanpa banyak mengkaji-pun kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkannya di negeri ini, meskipun belum tahu kapan akan berhasil sekalipun.

 

Untuk buah yang tidak secara khusus disebutkan seperti alpukat tersebut diatas, perlu kajian yang mendalam dari kita. Perlu siang-malam kita kaji dari segala sisinya, sambil berdiri-sambil duduk dan sampai tidur-pun bermimpi dengannya !

 

Bila kita sudah melalukan itu sampai suatu titik yang kemudian kita menyadari betapa besar manfaat ciptaan Allah yang kita pikirkan  ini, sampai muncullah keyakinan dari hati dan meluncur melalui pengucapan lidah kita – mensucikan namaNya – Rabbana maa  khalakta haadzaa baathilaa, subhaanaKa faqinaa ‘adzaabannaar – Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan  semua ini dengan sia-sia, Mahasuci engkau, lindungilah kami dari adzab neraka – maka saat itulah Allah memberi status orang yang melakukannya seperti ini sebagai ulil albaab – orang yang menguasai inti persoalan. (QS 3:190-191).

 

Di ayat lain disebutkan, para ulil albaab inilah orang yang diberi hikmah, yaitu kebaikan yang sangat banyak (QS 2:269). Kebaikan yang sangat banyak bahkan sampai bisa dihitung 29,000 kali (malam lalatul Qadar), 100,000 kali (masjidil haram) dan bahkan lebih dari itu, itulah inti dari keberkahan.

 

Maka kita gunakan kata sambung “dan” dalam upaya menyehatkan masyarakat itu, bukan kata “atau”. Kita melakukan ini dan itu, bukan ini atau itu. Kita menanam berbagai jenis tanaman yang namanya disebut secara spesifik di Al-Qur’an, dan melakukannya pula untuk tanaman-tanaman yang manfaatnya telah kita pikirkan siang malam seperti alpukat tersebut di atas.

avocado_igrow
iGrow My Own Food – Avocado

 Tentu tidak berhenti memikirkannya saja – kita juga harus  siap untuk mengamalkannya yaitu terjun ke lapangan. Karena kepada orang-orang yang sudah beramal-lah kabar baik berupa doa yang terkabul itu diperuntukkan (QS 2:195).

 

Untuk gerakan penyehatan masyarakat jangka panjang ini, bila karena satu dan lain hal Anda tidak bisa menanamnya sendiri – insyaAllah sudah kami siapkan lahan yang nantinya akan bisa mencapai 200 hektar di Banten dan di Blitar untuk menjadi ladang amal kita menanam alpukat rame-rame. Anda bisa berpartisipasi di dalamnya melalui iGrow.asia yang saat inipun sudah mulai bisa Anda pesan bibit alpukatnya.  Yes We Can Make The Change ! InsyaAllah.

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Co-Founder)

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *