Abasa Diet Untuk Penderita Diabetes

Segera setelah saya me-release tulisan tentang Abasa Diet – yaitu diet yang menyehatkan berdasarkan rangkian ayat-ayat makanan yang secara khusus kita diminta memperhatikannya di surat ‘Abasa, timbul banyak pertanyaan dan juga pendapat. Maka melalui tulisan ini dan juga insyaAllah di beberapa rangkaian tulisan berikutnya, saya ingin mempertegas bahwa Abasa Diet bukan hanya untuk kesehatan yang bersifat preventif – mencegah terjadinya gangguan kesehatan. Tetapi juga bersifat kuratif, menyembuhkan penyakit yang sudah terjadi. Bagaimana caranya?

Tentu tidak mudah merubah mindset bahwa tempat bertanya untuk urusan kesehatan itu adalah para dokter dan ahli kesehatan pada umumnya, maka penjelasan bahwa Abasa Diet juga bisa bersifat kuratif itu juga saya ambilkan dari pendapat para ahli kesehatan – bila pendapat itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an sebagai panglimanya.

Sebagaimana panglima pada umumnya, dia menentukan arah atau kebijakan sedangkan prajurit melaksanakannya. Prajurit bisa salah dalam mengartikan perintah, tetapi sang panglima tidak bisa salah. Seperti itulah kedudukan ilmu manusia dibandingkan dengan petunjukNya.

Maka sekarang saya mengenenakan topi prajurit yang berusaha memahami  arahan panglimanya yaitu  Al-Qur’an untuk memperhatikan makanan kita (QS 80 :24-32). Secara khusus lagi terkait dengan penyembuhan berbagai penyakit serious yang saat ini sangat membutuhkan jawaban yang akurat, yang terjangkau oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat yang menderitanya.

Pertama saya ambil penyakit diabetes , yang tingkat prevalensinya meningkat sangat tajam di Indonesia maupun di seluruh dunia. Menurut WHO, tahun 2000 lalu tingkat prevalensi diabetes di Indonesia baru mencapai 8.4 juta, angka ini diperkirakan akan menjadi 21.3 juta 14 tahun mendatang (2030). Di dunia angka ini melonjak dari 171 juta (2000) dan akan menjadi 366 juta pada tahun 2030. Rata-rata 1.5 juta orang meninggal di dunia setiap tahun karena diabetes ini.

Perlu dipahami bahwa konteks penyembuhan dalam Islam adalah bukan mencegah atau menunda kematian karena hanya Allah-lah yang bisa menentukan kapan kita semua akan mati, tidak bisa diundurkan atau dimajukan walau satu detik sekalipun. Kontkes penyembuhan dalam Islam adalah agar badan kita tetap sehat sampai akhir hayat, agar kita bisa beramal shalih maksimal sampai hari kita menghadapnya.

Apa gunanya kita diberi usia panjang tetapi sakit-sakitan, jangankan beramal shalih – hidup sendiri-pun menjadi beban orang lain. Jadi sedapat mungkin kita harus sehat dan tetap produktif sepanjang hayat masih dikandung badan.

Lantas bagaimana Abasa Diet bisa menekan jumlah penderita diabetes sekaligus menyembuhkan yang sudah terlanjur terkena penyakit ? Sudah saya jelaskan melalui tulisan sebelumnya bahwa inti dari Abasa Diet adalah porsi kelompok buah, sayur dan rempah-rempah yang tinggi (4/6 bagian), sementara porsi biji-bijian dan daging beserta produk hewan lainnya masing-masing hanya 1/6 bagian maksimal.

Bagaimana komposisi makanan yang seperti ini dapat menyembuhkan penyakit diabetes ?

Pertama perlu kita ketahui apa dan bagaimana penyakit diabetes itu dan bagaimana proses kemunculannya. Setelah tahu prosesnya, maka insyaAllah kita bisa melawannya atau mencegah terjadinya.

Insulin
How insulin works

 Diabetes ada dua jenis yaitu tipe 1 dan tipe 2. Penderita tipe 1 ini tidak banyak, di dunia hanya sekitar 5 % dari seluruh penderita diabetes. Penderita diabetes tipe 2 yang sangat banyak, jumlahnya mencapai 95% dari penderita diabetes.

Penderita diabetes tipe 1 umumnya disebabkan oleh tidak berfungsinya  beta cells di pancreas dalam memproduksi insulin,  produksi insulin menjadi tidak cukup atau bahkan tidak ada sama sekali. Apa dampak kekurangan atau ketiadaan insulin ini ?

System pencernaan kita antara lain mengurai carbohydrate yang kita makan menjadi  gula sederhana yang disebut glucose, gunanya untuk memberi energi pada seluruh sel-sel tubuh kita. Untuk memasukkan glucose dari aliran darah ke sel-sel tubuh – dibutuhkan semacam kunci pembuka pintu sel-sel tersebut, itulah insulin.

Ketika insulin tidak ada atau tidak cukup, maka gula atau glucose terus berputar di dalam aliran darah dan terakumulai menjadi kadar gula yang tinggi pada darah penderitanya. Sementara tubuhnya menjadi semakin lemah dan semakin lemah karena sel-sel nya tidak mendapatkan sumber energi yang semestinya.

Pada penderita diabetes tipe 2, kasusnya berbeda. Insulin masih diproduksi secara cukup tetapi kunci pintu yang bernama insulin tersebut gagal membuka pintu sel. Seperti gembok yang macet, meskipun kuncinya ada tetap tidak bisa dibuka pintunya.

Apa yang membuat pintu sel ini bisa macet dan tidak bisa dibuka oleh insulin ? antara lain karena lemak yang jahat dan polusi atau pencemaran. Lemak yang jahat ini datangnya dari makanan yang kita makan yang mengumpul di sel-sel otot kita. Menumpuknya lemak-lemak ini antara lain menyebabkan gangguan pada insulin signaling process – yang menyebabkan kunci pintu berupa insulin tersebut gagal membuka sel-sel tubuh untuk menyalurkan energi berupa gula atau glucose. Macetnya pintu sel yang tidak bisa dibuka oleh kuncinya (insulin) ini yang disebut insulin resistance – yang menjadi penyebab penyakit diabetes tipe 2.

Tetapi tidak semua lemak menyebabkan insulin resistance tersebut, umumnya hanya lemak jenuh seperti palmitate yang berasal dari daging, susu, telur ataupun lemak jenuh dari minyak nabati yang kaya minyak jenuh seperti pada minyak kelapa sawit – yang menyebabkan insulin resistance.

Minyak atau lemak yang berasal dari rantai tunggal tidak jenuh – monounsaturated fat seperti oleate – justru dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh lemak jenuh seperti palmitate tersebut di atas. Oleate paling banyak terdapat di zaitun, avocado dan kacang-kacangan. Monounsaturated fatterdapat paling banyak pada minyak zaitun (73%), kemudian minyak avocado (71%) dan minyak kacang tanah (46 %).

Dari penjelasan di atas kita bisa simpulkan bahwa bila kita bisa menekan konsumsi daging dan sumber  protein hewani lainnya, kemudian menggantinya dengan kacang-kacangan, zaitun atau minyak zaitun dan alpukat – maka ini sudah akan bisa menekan penyakit diabetes tipe 2 – yang sekarang disebut  “Black Death of Twenty First Century” karena pertumbuhan prevalensinya  yang eksponensial tersebut di atas.

Ini bukan sekedar teori karena sudah pernah dilakukan penelitian oleh Anderson JW dan Ward K sekitar 35 tahun lalu. Sejumlah penderita diabetis  yang sudah membutuhkan injeksi insulin diterapi dengan plant-based diet ( diet berbasis nabati – yang saya menyebutnya Abasa Diet).

Mereka hanya boleh makan makanan dari tumbuhan dan ditimbang badannya setiap hari. Bila mereka mulai turun berat badannya, mereka harus makan makanan dari tumbuhan sebanyak mungkin – agar berat badan tidak turun. Dalam waktu 16 hari sejak terapi, separuh penderita tidak lagi memerlukan injeksi insulin – dan selebihnya mengalami penurunan kebutuhan insulin sampai 60 % – yang berarti kebutuhan injeksi insulin mereka berkurang lebih dari 50 %.

Itu untuk penderita dibetis tipe 2, bagaimana dengan penderita diabetis tipe 1 yang produksi insulinnya memang tidak ada atau tidak cukup ?

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Karin Clement dari  Perancis tahun lalu menemukan setidaknya ada satu species bakteri dari ribuan species yang ada di perut kita, yaitu yang disebut bakteri Akkermansia muciniphila – jenis bakteri yang terkait langsung dengan diet kaya serat – yang berdampak pada penurunan gula darah dan produksi insulin.

Kita tahu para bakteri ini tidak bekerja sendirian, mereka berada dalam kelompok masyarakat ataumicroorganism ecosystem yang disebut Microbiome. Microbiome ini seperti masyarakat dalam suatu negeri, bila masyarakatnya baik atau sehat akan baiklah negeri itu secara keseluruhan dan begitu pula baiknya.

Negeri dari Microbiome  tersebut adalah tubuh kita, bila kita pandai merawat dan memberi makanan yang baik-baik pada Microbiome yang ada pada tubuh kita , akan sehatlah mereka dan sehat pula diri kita.  Apa makanan dari Microbiome ini ?

Makanan dari bakteri-bakteri yang baik di dalam Microbiome kita adalah apa yang disebut prebiotics. Sumber prebiotics di alam ini banyak terdapat pada sayuran-sayuran dan rempah-rempah seperti asparagus, wortel, bawang putih, artichoke, bawang merah, tomat dlsb.

Selain makan banyak sayur, mengganti minyak jenuh dengan minyak tidak jenuh – seperti yang disarankan di surat Abasa tentang zaitun, Abasa Diet juga menyarankan banyak makan buah. Apakah buah tidak berbahaya bagi penderita diabetes ?

Inipun sudah dijawab para ahlinya. Buah banyak mengandung serat dan antioxidant, selain memberi energi secukupnya, makan buah membuat kita awet kenyang – terapi paling efektif untuk para penderita diabetes yang sering merasa lapar. Antioxidant dari buah tersebut sangat berguna untuk mencegah kerusakan sel-sel yang sangat rawan pada penderita diabetis. Antioxidant juga berguna untuk mencegah inflamasi dan oxidative stress.

Secara khusus buah yang diistimewakan di surat ‘Abasa seperti anggur, zaitun dan kurma ternyata juga memiliki peran khusus dalam mencegah maupun mengobati penyakit diabetis. Anggur dan kurma selain kaya serat mengandung antioxidant yang sangat banyak – khususnya kurma, sedangkal zaitun berperan khusus menyediakan monounsaturated fat – oleate terbanyak.

Jadi kita bisa melihat sekarang bahwa seluruh komponen pada Abasa Diet yang menekankan konsumsi makanan yang lebih berat pada  buah, sayur, dan rempah-rempah – ternyata terbukti efektif untuk melawan penyakit diabetis baik yang masih pada tahap pencegahan maupun pada tahap penyembuhan.

Untuk melengkapi rangkaian tulisan Abasa Diet ini, insyaAllah saya masih akan menulis kaitannya dengan pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit kritis lainnya seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi, depresi dlsb. InsyaAllah.

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Co-Founder)

(Visited 7 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *