Mengatasi Tragedy of The Commons…

Sebentar lagi kita akan kembali menyaksikan tragedy of the commons tahunan di negeri ini, yaitu ketika mayoritas penduduk kota besar memutuskan pulang kampung bareng. Hal yang baik untuk dilakukan orang per orang, tetapi ketika (hampir) semua orang melakukannya – menimbulkan masalah besar berupa kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Problem ekonomi pada umumnya timbul juga karena tragedy of the commons ini.

Semua orang tentu pingin memiliki tempat tinggal yang dekat dengan kantor atau pabrik tempatnya bekerja, dampaknya adalah tanah di perkotaan harganya selangit, terjadi kekumuhan di kota, udara menjadi tidak sehat, sumber air bersih terganggu dan berbagai masalah sosial yang muncul karenanya.

Setiap hari kita juga menyaksikan tragedy of the commons di jalan- jalan raya, semua orang pingin cepat sampai ke kantor atau pulang ke rumahnya. Dampaknya justru mayoritasnya telat karena kemacetan yang semakin bertambah parah.

Lantas bagaimana mengatasi masalah seperti ini ?, cara idealnya adalah membangun masyarakat mulia yang sebagiannya bisa saling mengalah atau berkorban. Sebagian memutuskan tidak pulang kampung setiap lebaran – agar yang lain bisa pulang kampung dengan nyaman. Sebagian memutuskan untuk tidak bekerja di kota-kota besar, agar yang memang perlu bekerja di kota-kota besar dapat melakukannya secara lebih manusiawi.

Tetapi yang ideal seperti ini kan tidak terjadi dengan sendirinya di masyarakat, harus ada yang memulai sedikit demi sedikit akhirnya mencapai tipping point – meluas secara cepat di masyarakat. Tetapi siapa yang mau memulai ini ? dan bagaimana mekanismenya agar bisa meluas ?

 Itulah yang sedang kita coba lakukan di iGrow Project – yaitu project Ramadhan kami bersama team anak-anak muda kreatif dari Badr Interactive. Intinya project ini adalah initiative untuk menghindaritragedy of the commons di bidang lingkungan dan masa depan kehidupan.

Ketika tanah untuk tempat tinggal semakin langka dan mahal, orang akan cenderung mengoptimalkan tanah-tanah yang ada untuk bangunan – baik itu untuk rumah, kantor, pabrik dlsb. Ini menjadi pilihan orang per orang karena rumah lebih cepat bisa dinikmati, kantor dan pabrik lebih cepat untuk memutar uang dlsb.

Dampaknya nyaris tidak ada yang menanam pohon, karena tanah yang ditanami pohon – tidak secara langsung bisa dinikmati oleh pemiliknya. Kalau toh bisa dinikmati setelah menunggu sekian lama, hasilnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan tanah untuk perumahan dan sejenisnya.

Lantas bagaimana orang bisa kembali rame-rame mau menanam pohon secara massive di tanah-tanah yang masih tersisa ? harus ada yang mulai mengajak-ajak dan memberi insentif sehingga orang mau melakukannya. Tetapi siapa yang akan memberi insentif ini ?

igrow-logo

Itulah proses kreatif yang sekarang sedang kita kerjakan. Nantinya insentif itu datang dari masyarakat yang saling menjamin, masyarakat yang kita ajak untuk bergabung dalam iGrow project ini.

Dengan konsep saling menjamin ini misalnya pemilik lahan di puncak-Bogor tidak harus menjual tanahnya ke orang Jakarta yang kemudian menjadikannya villa. Dia cukup menjadikan lahannya untuk menanam berbagai pohon buah, dia sudah akan memperoleh insentif yang tidak kalah menariknya dengan menjual lahan untuk dijadikan villa.

Insentif itu datang dari para sponsor yang membiayai pohon-pohon yang ditanam oleh si pemilik tanah tersebut. Kok mau para sponsor membiayai penanaman pohon-pohon ini ? apa insentif untuk mereka dan bagaimana mengetahui kalau pohon-pohon itu bener-bener ditanam ?

Insentif kepada para sponsor yaitu masyarakat luas seperti saya dan Anda adalah terjaganya lingkungan hidup dalam jangka panjang, tersedianya buah-buahan dan bahan pangan yang cukup hingga generasi mendatang, problem banjir tahunan Jakarta akan ada penyelesaiannya yang konkrit karena air dikelola dengan baik hingga ke hulu, dan bahkan bisa juga insentif bagi hasil setelah pohon berbuah.

Untuk meyakinkan bahwa pohon-pohon yang keberadaannya kita sponsori rame-rame tersebut bener-bener ditanam, maka setiap pohon di identifikasi by name dan diverifikasi oleh surveyor independent. Surveyor independent inilah yang akan terus secara rutin meng-update status pohon yang keberadaannya Anda sponsori tersebut – semudah meng-update status di Facebook atau Twitter Anda !

Para pemilik lahan – yang kita sebut operator, mendapatkan jaminan bahwa bila mereka menanami pohonnya secara serius – dia dijamin ada yang membiayai pohon-pohon tersebut.

Para sponsor mendapat jaminan value for money, bahwa setiap sen pembelanjaan dia untuk menanam pohon bener-bener menjadi pohon yang memberi manfaat jangka pendek maupun jangka panjang bagi kehidupan manusia.

Para independent surveyor yang terlatih mendapatkan jaminan bahwa asal dia bekerja dengan baik dan terus membuat laporan yang benar dan akurat, dia akan memiliki pekerjaan yang berkesinambungan dengan penghasilan yang menarik. Surveyor yang jumlahnya bisa sangat banyak sampai ke daerah-daerah ini saja sudah akan mengurangi tekanan urbanisasi tersendiri bagi kota-kota besar.

Bayangkan bila project semacam ini kelak bisa menarik jutaan orang untuk bergabung seperti orang bergabung dalam Facebook atau Twitter, akan sangat banyak pohon yang bisa ditanam di seluruh permukaan bumi.

Pada saat itu insyaAllah gaya hidup menanam akan menjadi lifestyle dunia. Kekayaan orang bukan dihitung dari banyaknya rumah yang dia miliki, banyaknya mobil yang dia bisa beli atau banyaknya uang di bank, tetapi adalah banyaknya pohon yang dia tanam !

Saat itu bumi arab yang tandus-pun akan menjadi hijau karena getolnya masyarakat dunia untuk menanam. Maka bisa jadi seperti itulah kita memahami manifestasi dari kabar nubuwah melalui hadits berikut :

 “ Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai ” (HR. Muslim).

Bila kita bisa mengatasi tragedy of the commons dalam lingkungan hidup ini, insyaAllah nanti masalah-masalah lain juga bisa didekati dengan inspirasi yang sama. InsyaAllah.

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Co-Founder)

(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *