Obah

Ada satu kata yang menarik dalam bahasa Jawa yang membedakan sesuatu yang hidup dengan yang mati, yaitu kata “obah”. Terjemahan yang mendekati dengan kata ini adalah berubah –  barangkali kata “berubah” inipun asalnya juga dari “obah” tadi, sedangkan dalam bahasa Inggris-nya “move” atau “change”. Jadi jauh sebelum jargon “change…” mendunia karena digunakan dalam kampanye-kampanye presiden atau pemimpin dunia, orang Jawa sudah memiliki falsafah tentang “obah” ini.  Ada pepatah “yen ora obah ora mamah…,bila tidak berubah tidak makan”. 

 

Jadi dorongan untuk berubah itu sebenarnya melekat pada budaya dan falsafah hidup kita, tetapi realitanya perubahan itu amat sangat sulit dan berat bagi sebagian besar orang. Perubahan hanyalah privilege for the view  – hak istimewa bagi sedikit orang yang memang bersedia berubah.

 

Lebih dari sekedar budaya, Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk negeri ini juga sangat mendorong perubahan “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS 13:11)

 

Di era teknologi informasi yang berkembang sangat pesat seperti sekarang ini, perubahan-perubahan dalam kehidupan juga terakselerasi dengan amat sangat cepatnya. Dunia di sekitar kita terus berubah, tinggal siapa yang merubah – maka dialah segelintir yang menikmatinya. Sedangkan yang tidak siap berubah, maka dialah korbannya.

 

Perubahan itu seperti seekor macan yang mengendap-endap, dia akan menerkam mangsanya yang yang tidak bergerak. Macan tidak akan mudah menerkam bila mangsanya terus bergerak, apalagi ketika si calon mangsa berani menghadapinya dengan menatap mata si macan.

 

Nyaris hampir semua bidang – ada macannya sendiri yang mengendap-endap, jadi Andapun harus terus berubah, apapun bisnis atau pekerjaan yang Anda sedang jalani. Apakah Anda seorang sopir atau seorang dokter, masing-masing Anda ada macan yang mengintai mengendap-endap.

 

Dengan adanya Uber misalnya, berapa banyak sopir yang (terancam ) kehilangan pekerjaan – karena kini orang dengan mudah memanggil ‘mobilnya’ untuk mengantar kemanapun dia mau pergi. Tidak perlu membayar parkir, sopir dan tidak perlu bahkan membayar cicilan mobilnya.

 

Uber dan sejenisnya bahkan diprediksi akan merubah system transportasi dunia, bukan hanya sopir yang kehilangan pekerjaan – karena mereka sudah memvisikan mobil yang tanpa memerlukan pengemudi lagi !, bahkan perusahaan mobil konvensional-pun akan terganggu keberadaannya.

 

Demikian pula dengan para dokter, selain Anda bersaing dengan sesama profesi – Anda bersaing juga dengan profesi lain yang berhimpitan yaitu dengan para apoteker misalnya. Kini persaingan tersebut terus bertambah ketat karena layanan medis dari negeri-negeri jiran semakin mudah diakses, demikian pula dengan berbagai layanan lain yang tidak diduga-duga seperti Big Data yang bisa ‘mengobati’ penyakit tanpa obat, pengobatan alternative atau komplementer dlsb.

 

Dua kasus profesi ini saya jadikan contoh untuk sekedar memberi gambaran bahwa tidak ada profesi yang aman sekarang, maka apapun profesi Anda – Anda harus siap berubah.

 

Seperti janji Allah dalam ayat tersebut di atas bahwa Dia akan mengubah nasib kita bila kita sendiri mau berubah, maka perubahan itu kini semakin menjadi keniscayaan – peluang bagi yang mau melakukannya, dan ancaman bagi yang enggan berubah.

 

Lebih jauh Allah juga mendorong kita untuk tidak sekedar berubah atau bergerak, Allah mendorong kita untuk menjelajah ke permukaan bumi – dan janji rezeki bagi yang mau melakukannya.

 

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS 67:15)

 

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS 62:10)

 

Ayat –ayat inilah antara lain yang mendorong agama ini untuk menyebar sangat luas dan sangat cepat di awal-awal perkembangannya dahulu, maka kinipun mestinya umat ini menjadi umat yang pro-aktif menjelajahi dunia meng-eksplorasi segala peluangnya. Masyarakat Ekonomi ASEAN misalnya, sesungguhnya lebih berupa peluang bagi kita dibandingkan ancamannya – bila kita siap mengamalkan dua ayat tersebut di atas.

 

Tidak juga harus keluar negeri, menjelajah negeri sendiri juga bisa membuka banyak peluang yang tidak terduga. Bila perjalanan saya ke Bali beberapa pekan lalu menemukan bunga kamboja kuning yang sangat berpotensi untuk diolah menjadi bahan  baku wellness industry, perjalanan saya ke Sumatra Barat hari-hari ini menemukan bahan baku pangan yang nyaris terlupakan.

 

Dua tanaman yang sangat berpotensi untuk bahan pangan yang baik itu saat ini masih tumbuh liar di hutan-hutan dan pekarangan, belum secara efektif dibudidayakan. Yang pertama adalah Aren, karena Glycemic Index-nya hanya di angka 35 dibandingkan dengan gula tebu yang 100 – maka aren berpeluang untuk menjadi gula alami terbaik untuk mengerem laju pertumbuhan penyakit diabetes di negeri ini.

S__14696450 

Kendalanya selama ini adalah panjangnya waktu yang dibutuhkan sejak aren tumbuh sampai menghasikan nira – bahan gula aren – yang di kisaran 6-8 tahun. Berat bagi petani menanam sesuatu yang waiting period-nya begitu lama, maka perlu dicari solusinya.

 

Tetapi solusi itu juga tidak jauh-jauh dari tempat ini, saya jumpai labu kuning yang juga masih tumbuh liar tanpa ditanam di pekarangan rumah-rumah penduduk atau tegalan.

 

Labu kuning ini memiliki Glycemic Index yang cukup tinggi sebenarnya yaitu 75, tetapi karena kandungan karbohidratnya yang rendah hanya sekitar 7 % – maka memberikan dampak Glycemic Load – pengaruh makanan pada peningkatan gula darah – yang juga rendah.

 

Kombinasi dari tanaman aren dengan tanaman labu akan dapat menjadi pola tanam tumpang sari yang efektif bagi membangun sumber nutrisi yang sangat baik untuk mengerem laju pertumbuhan penyakit diabetis di negeri ini.

 

Demikian pula secara ekonomi, menanam aren yang berpotensi hasil tinggi di tahun ke 6 dst, menjadi menarik manakala sambil menunggu aren ini kita sudah bisa panen labu setiap tahun.

 

Labu yang di negeri barat menjadi icon Halloween dan menjadi salah satu sumber bahan pangan yang sudah sangat luas aplikasinya, di kita belum banyak dimanfaatkan. Padahal pada jenis bahan pangan labu ini juga tersimpan pesan yang sangat penting untuk kita dalami.

 

Tanaman sejenis labu-lah yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Yunus setelah Dia selamatkan dari perut ikan hiu : “Kemudian Kami lemparkan dia ke negeri yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang tanaman dari jenis labu”.(QS 37:145-146)

 

Kita selama ini ‘gelap’ dalam hal makanan – makanan kita menjadi sumber penyakit, bumi kita yang subur secara fisik – tetapi kita mengimpor begitu banyak makanan – laksana negeri yang tandus, dan kita juga sedang sakit – baik secara harfiah dengan diabetes dan berbagai penyakit lainnya yang tumbuh pesat, juga secara maknawi seperti berbagai penyakit social, ekonomi, pemikiran dlsb.

 

Maka  kalau di dunia barat labu dimakan tetapi juga digunakan sebagai icon genderuwo yang bernama Halloween, kita bisa merubahnya menjadi bahan makan yang juga menyembuhkan penyakit – penyelamat dari kegelapan ‘perut ikan hiu’.

 

Tetapi bagaimana peluang aren dan labu di negeri yang orangnya sudah terlanjur fanatik dengan makan nasi , gula tebu dan terigu impor ? Inilah peluang bagi yang mau ‘obah’ tersebut di atas. Kalau kita tidak berubah, kita akan mati – karena salah satu tanda kematian itu adalah ‘ora obah’ dalam tembang jawa ‘wong mati ora obah,  yen obah medeni bocah – orang mati tidak bergerak, kalau bergerak menakutkan anak’, dan kita belum mati – jadi harus ‘obah’. InsyaAllah

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Founder)

(Visited 495 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.