Career 2.0 Start Earlier

Ada paradox di dunia pekerjaan dan karir, sangat sedikit fresh graduate yang mau terjun ke dunia pertanian – termasuk sarjana pertanian sekalipun. Tetapi ketika orang sampai di puncak kesuksesannya, menjadi presiden sekalipun – bila ditanya mau apa setelah pensiun – mayoritasnya pingin jadi petani ! Karena petani hanya menjadi pekerjaan klangenan – lifestyle, maka sangat sedikit petani pasca pensiun yang sukses – lha wong bertani se-umur-umur saja susah untuk sukses, apalagi hanya menjadi klangenan.

 

Tetapi fenomena ini akan bisa segera berubah, dunia membutuhkan petani-petani yang tangguh. Eropa bahkan sudah memvisikan Bio-Economy 2030, artinya segala produksi pertanian dalam arti luas akan segera menjadi buruan bangsa-bangsa di dunia. Ini menjadi peluang bagi yang ingin bertani lebih dari sekedar klangenan.

 

Kuncinya start earlier, mumpung tenaga masih rosa, network masih luas dan kemauan belajar masih kuat. Peluang untuk sukses di karir kedua juga masih sangat besar di pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan ini.

 

Kesalahan mendasar para petani klangenan biasanya justru baru mulai ketika sudah pensiun dari pekerjaan sebelumnya. Selain masalah psikologis, saat itu harga tanah sudah sangta tinggi – sedangkan kemampuan sudah relative terbatas. Demikian pula dengan sumber daya lainnya yang mulai terbatas.

 

Untuk bertani yang sustainable – memberi income cukup dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi usaha, pasti tidak cukup dengan beberapa ratus m2 lahan kebun. Tanah seukuran ini hanya cukup untuk mindahin rumah pensiun Anda dari tempat Anda sekarang ke tempat yang lebih jauh tanpa memberi dampak manfaat yang significant.

 

Anda perlu lahan seukuran minimal 0.5 hektar, 1.5 hektar dan bahkan lebih untuk memulainya saja tergantung dari tanaman yang Anda bidik. Dan banyak yang tidak tahu lahan seluasan ini masih tersedia dan terjangkau oleh rata-rata karyawan se-level manager di Jakarta.

 

Bila Anda mampu membeli lahan seperti inipun saran saya jangan tersendiri, karena belum ekonomis juga bila sendirian. Kalau dalam suatu klaster pertanian, chance untuk berhasil akan lebih besar karena skalanya dan karena resources sharing-nya.

 

Untuk tanaman juga demikian, saya sendiri yang memperkenalkan tanaman kurma, zaitun, tin dlsb. Namun tanaman-tanaman ini masih dalam proses pembelajaran, kita tanam untuk mendekatkan diri pada petunjuk Al-Qur’an. Untuk bisa mencapai tingkat komersial yang menjanjikan butuh pembelajaran, butuh waktu dan pengalaman, ini yang masih terus harus ditempuh.

 

In the mean time ada segudang tanaman-tanaman local kita yang sudah proven berabad-abad menjadi keunggulan negeri ini – sampai negeri inipun dijajah karenanya. Justru tanaman-tanaman inilah yang sudah sangat siap dikomersialkan.

 

Secara umum tanaman-tanaman yang sudah berpotensi besar dalam jangka pendek  ini saya kelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok pangan (Food), pakan  (Feed) dan Flavor and Fragrance (rempah-rempah dan tanaman aromatic).

 

Untuk pangan jelas, Anda bisa mulai dari padi-padian, kacang-kacangan, buah, sayur, ternak sampai ikan. Namun karena jenis tanaman pangan pada umumnya bersifat bulky – masalah transportasi dan resiko kerusakan di jalan harus sangat dipertimbangkan. Sebagai contoh bila pasar terbesar di Indonesia yang Anda tuju, itu adanya di BJJB (Banten, Jakarta dan Jawa Barat), maka lahan yang Anda beli sebaiknya  di area ini.

 

Demikian pula Pakan, dia lebih bulky lagi. Tetapi karena pakan tidak langsung ke konsumen, dia umumnya untuk peternak – maka Anda bisa mendekati sentra-sentra peternakan di Indonesia. Tanaman pakan ini sangat besar pasarnya, karena kita semua pingin bisa makan daging sedangkan daging mahal justru karena masih terkendala oleh sumber pakan ini.

 

Maka menanam tanaman pakan baik berupa hijauan pakan ternak (HPT) seperti tebon jagung, maupun tanaman sumber nutrisi seperti indigofera dlsb. insyaAllah akan selalu ada pasarnya yang sangat besar.

 

Yang sering kurang menjadi perhatian kita adalah tanaman-tanaman rempah, tanaman obat-obatan, tanaman aromatic penghasil minyak atsiri dlsb. Ini adalah hidden treasure bagi bangsa yang tinggal di Khatulistiwa ini. Tanaman-tanaman dari kategori ini umumnya tidak dimiliki oleh Eropa, Amerika, Australia dlsb. yang selama ini mendominasi pasar produk pertanian kita.

 

Maka kalau tanaman kategori Food and Feed pasar utama kita ya 255 juta penduduk negeri ini, swasembada unuk membentengi diri dari serbuan produk pertanian asing – tanaman-tanaman dari kelompok Flavor and Fragrance pasarnya sangat luas di seluruh penjuru dunia.

 

Bila dahulu kita dijajah karena rempah-rempah, mengapa tidak sekarang kita ‘menjajah’ dunia juga dengan rempah-rempah. Mumpung dunia sudah terlanjur jatuh cinta sama lada (pepper), pala (nutmeg), kemiri (candlenut) dlsb. Mumpung dunia sudah tahu kehebatan tanaman multi fungsi cengkeh yang menghasilkan Eugenol – sumber segala obat dan biochemical lainnya.

 

Indahnya tanaman kategori ke 3 yaitu Flavor and Fragrance ini, dia bisa ditanam nyaris di mana saja di wilayah Nusantara ini. Satu daerah dan daerah lain berbeda dalam peluangnya, tetapi hampir semua wilayah punya keunikan tersendiri. Tidak juga perlu kawatir jarak dari pasar, karena yang dibawa ke pasar umumnya produk akhirnya saja – yang tidak lagi bulky.

 

Semua peluang-peluang ini tentu tidak cukup diserahkan kepada para petani tradisional saja, dibutuhkan petani-petani yang visioner dengan segala macam sumber daya yang dimilikinya. Maka disitulah peluang Anda, bila Anda mau memulai lebih awal Career 2.0 Anda – agar tidak sekedar menjadi cita-cita ‘ bila pensiun saya ingin menjadi petani !’

 

Oleh: Muhaimin Iqbal (iGrow Founder)

(Visited 1,164 times, 7 visits today)

3 thoughts on “Career 2.0 Start Earlier

  1. Sarjana pertanian banyak kesasar di perbankan dan industri lainnya yang tidak terkait dengan pertanian, Anak petani berlomba-lomba kuliah dikota dan bermimpi kerja dikota. Sebaliknya para rente dan cukong, membuai dan menjerat petani sehingga lahannya dilepas ke meraka kemudian disulap menjadi Villa, tempat wisata, atau sekedar investasi saja.

    Menarik sekali membaca tulisan ini, ketika semua orang dari bermacam latar belakang harus terpenuhi kebutuhan pangannya secara instan. Disitulah peluang, untuk menumbuhkan semangat menjadi petani/peternak. Tidak harus melalui jalur formal, bisa dibuatkan komunitas anak-anak muda disetiap provinsi. Lalu “dibrain wash” bagaimana pentingnya akan ketahanan pangan. Mulai diarahkan dengan slogan ” Petani Masuk Kota” ( dulu ada slogan “ABRI Masuk Desa”), artinya dilahan sempit, diruang dengan oksigen dan sinar matahari terbatas supplynya, dengan biaya murah harus. diajarkan untuk bertani secara hidroponik atau semisalnya.

    Jika nantinya, gerakan “Petani Masuk Kota” sudah berkembang, ada saatnya banyak orang-orang di desa akan tetap tinggal didaerahnya masing-masing, akan mengembangkan lahannya kembali. Dan diharapkan kedepannya ECommerce lokal akan banyak menjual hasil ladang kita bukan lagi menjual produk produk impor dari Negara sana dan bisa kita jajah negara lain dengan hasil ladang kita.

    Wassalam
    Penulis adalah Alumni dari Pesantren Pertanian daerah Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published.